Sejarah Singkat Desa Titomartani

Wilayah yang sekarang dikenal dengan Tirtomartani sejak Jaman Mataram Kuno, bahkan Sejak jaman sebelumya telah didiami oleh masyarakat dengan budaya dan pengetahuan yang Tinggi. Pada masa itu, wilayah ini sangat maju peradabannya.

Diwilayah yang sekarang disebut Tirtomartani berdiri megah bangunan tempat para rohaniawan budha menuntut ilmu di Candi Kalasan dan Candi Sari. Keberadaan candi ini menjadi bukti nyata hal tersebut. Keterangan ini jelas tertulis dalam prasasti Kalasan berangka tahun 778 masehi.

Pada masa itu mata pencaharian warga sebagian besar sebagai petani. Sistim pertanian yang telah maju dengan pengaturan pola tanam dan pengairan yang ditutup baik. Sawah diairi dari bendungan yang dibangun untuk mencukup layanan udara pertanian dan tempat ibadah.

Hal ini tersurat dalam prasasti Sumundul yang ditemukan di situs Candi Kedulan. Selain bangunan candi, di Tirtomartani ditemukan pula Bangunan patirtan di Dhuri, yang merupakan tempat mengambil udara untuk memimpikan pekerjaan selama masa itu dan alat.

Saat masa Mataram Islam, wilayah ini tetap menjadi wilayah yang penting, banyak tokoh besar pernah singgah dan bermukim di Tirtomartani, hal ini dibuktikan dengan adanya makam orang tua yang lain adalah makam Pangeran Nerang Kusumo.

Dalam catatan sejarah beliau adalah patih dijaman Amangkurat l, ada pula makam Pangeran Puspo Negoro yang hidup sejaman dengan Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan Hamengku Buwono I, ada juga makam Raden Kerto Pengalasan yan hidup pada kurun waktu setelahnya.

Pada tahun 1916, Kasultanan Ngayojokarto Hadiningrat diserah reorganisasi sistem pemerintahannya yang tertuang dalam Risblad no 11 tahun 1916 yang membagi wilayah Kasultanan dalam tiga kabupaten yaitu, Kabupaten Bantul Kabupaten Sulaiman dan Kabupaten Kalasan.

Dengan dijadikannya wilayah Kalasan sebagai kabupaten, berbagai fasilitas pemerintahan dibangun, mulai dari Masjid Jamik, Pasar Kalason Kantor Bupati, penjara, Kantor Polisi, kantor pos dan setasiun kereta api.

Diwilayah yang sekarang dikenal dengan Tirtomartani, saat itu muncul pula perusahaa asing (belanda) yang membuka usaha ini dengan berdirinya toko toko belanda, gudang dan berbagai bangunan loji dan jalur lori.

Sebelum tahun 1947, diwilayah yang sekarang disebut Tirtomartani ini telah berciri empat kelurahan yaitu Kalurahan Glondong. Kalurahan Kalibening, Kalurahan Geneng dan Kalurahan Kalimati, Kalurahan kalurahan ini telah memiliki struktur pemerintahan yang baik.

Hal ini ditandai dengan adanya buku tanah dan buku cetak dengan buku ekonomi dan buku pepriksaan desa yang baik dan cukup lengkap, namun karena kerasnya revolusi kemerdekaan, saat semasa ini yang masih lengkap hanyalah buku tanah.

Pada masa awal kemerdekaan Sri Sultan HB IX mengadakan pembaharuan sistim pemerintahan di wilayah kasultanan, pembaharuan Ini dengan tujuan membentuk pemerintahan yang modern, langkah awal yang ditempuh adalah penggabungan kalurahan kalurahan menjadi desa.

Pada awal tahun 1947, empat kalurahan yaitu Kalurahan Glondong, Kalibening, Geneng, dan Kalimati bergabung menjadi satu, dan diberi nama Tirtomartani.

Pada hari Jumat Kliwon, Tanggal 18 April 1947, Dewan Kalurahan Tirtomartani mengadakan sidang yang pertama, hari tersebut dijadikan dasar berdirinya Desa Tirtomartani, sebagaimana diresmikan Keputusan Kepala Desa Tirtomartani Nomor 5 Tahun 2017.

Penggabungan desa desa ini disahkan Sri Sultan HB IX dengan diterbitkannya maklumat No 5 tahun 1948, Tanggal 18 April 1948. Sejak berdiri, sampai saat ini, Tirtomartani telah dipimpin oleh beberapa Lurah/kepala Desa.

Lurah Desa pertama adalah Bapak Tirtoatmojo, semasa hidup bertempat tinggal di Glondong. Beliau mengemban amanat selama 20 th, sejak Tahun 1947 sampai dengan tahun 1967

Lurah kedua dijabat Oleh Bapak Harjo Sucitro selama 3 tahun, dari tahun 1968 sampai dengan tahun 1971, semasa hidup beliau bertempat tinggal di Dogongan.

Lurah ke tiga dijabat oleh Bapak Mangku Harjono selama hidup bertempat tinggal di Pundung, beliau pengemban
tugas sebagai kepala desa selama 15 tahun mulai tahun 1971 sampai dengan tahun 1986.

Pada masa pemerintahan beliau dibangunlah balai desa yang baru, proses pembangunan dimulal tanggal 11 April 1983 dan diresmikan penggunaannya pada tanggal 15 Mei 1985, dengan demikian berpindahlah pusat  pemerintahan Desa Tirtomartani dari balai desa lama di Glondong dan menempati bangunan baru di wilayah Ngajeg.

Sejak tahun 1986 sampai dengan 1994, selama 8 tahun, jabatan kepala desa dilaksanakan oleh Bapak Purwodiharjo, Carik Desa Tirtomartani.

Pada tahun 1994 sampai dengan 2013, selama 18 tahun, kepala desa dijabat oleh Sriyanto, dan sejak 2013 sampai sekarang Kepala Desa Tirtomartani djabat oleh bapak Danang Kristiawan, ST.

Berbagai pristiwa, prestasi dan catatan manis telah dicapai namun hambatan dan kendala untuk mewujudkan masyarakat sejahtera masihlah ada kerukunan, kebersamaan dan kegotongroyongan seluruh lapisan masyarakat menjadi modal menuju kesejahteraan dan kemajuan Desa Tirtomartartani.

Semoga diusia yang ke 70 ini Desa Tirtomartani dan seluruh Warganya selalu mendapat pertolongan dan Ridho
dari Allah SWT.